Thursday, October 20, 2016

Dumb and Dump

Being dumb dan being dumped. Kejadian baru-baru ini membuktikan bahwa 'being dumb' adalah disengaja bukan genetika. Ini bukan masalah IPK atau titel sarjana. Being dumb adalah sebuah pilihan hidup. Sosial media dijadikan ajang dramatisasi sebuah kebodohan. Alih-alih berkaca, malah menyuruh orang lain untuk berkaca. 
    
Berbuat salah itu manusiawi, tapi yang paling penting adalah introspeksi. Bukannya mengikuti zat kimiawi yang mengarah ke duniawi yaitu sibuk cari empati. Sebuah simpati dari orang lain dianggap cari mati padahal simpatinya datang dari hati, murni. Itulah pentingnya introspeksi. Kamu mungkin butuh sendiri merenungi. 

Menjadi dewasa itu dulu impian setiap remaja. Setelah mengalami, penuh sensasi & improvisasi. Namun sepertinya dia hanya mencari sensasi karena belum imunisasi. Pun yang 'being dumped'. Jadi korban seseorang yang belum imunisasi itu memang sulit. Seharusnya menyarankan untuk segera mendapat vaksin, tapi itu tadi, sensasi.

Sensasi diharapkan mampu membuat cinta yang terkhianati bersemi kembali. Padahal butuhnya vaksin, bukannya kesempatan yang tidak matang. Itu bukannya mengobati tapi malah mungkin akan kembali terkhianati, lagi. Ada konslet antara rasa & logika. Terlalu terbuka pada rasa lalu lupa pada logika.

'Being dumped' memang bukan rasa yang nikmat. Rasa-rasanya masih terlalu terbawa. Terlalu banyak rasa sehingga kesempatan kembali dibuka. Semoga kesempatan yang dibuka menganga itu bukan luka yang akan kembali menganga karena lupa introspeksi dan menelaah simpati dari hati dan juga karena merindukan sensasi & improvisasi dari manusia yang belum imunisasi. Semoga bisa berhati-hati karena vaksin pun ada yang palsu. Ojo kesusu .. 

Thursday, October 13, 2016

What Would You Do?

Pernah ya mengalami ketika semua hal berjalan tidak sesuai dengan keinginan? 
tergantung orangnya bagaimana menghadapi sesuatu diluar rencana atau kehendak
ada yang merasa bahwa itu memang sudah ditakdirkan begitu namun ada juga yang mempertanyakan keabsahan kenyataan tersebut. 

Mampu menerima kenyataan buat saya adalah anugerah. Itu bukan sesuatu yang mudah untuk mampu dilakukan, apalagi bagi beberapa orang yang mungkin ego dan gengsinya masih cukup besar. Sebagai manusia tentu mempertanyakan sesuatu itu normal dan tidak berdosa dan bagi saya itu penting sebagai bahan instropeksi diri pula. Sepertinya kalau hanya menjadi air yang mengalir tanpa mempertanyakan arah mengalir dan konsekuensi dari aliran tersebut untuk sekarang sepertinya ada yang salah. 

Critical Mind. 
Itu kunci dan itu penting. Agak 'annoying' juga memang menjadi orang yang selalu mempertanyakan banyak hal karena orang lain hanya akan bilang 'ya sudahlah memang begitu jalannya' ada yang merasa puas namun pasti ada yang merasa, what is wrong? mungkin memang tidak ada yang salah dan mungkin memang harus begini. klise. normatif. 

What would you do then?
aduh kalo pertanyaan ini ditanyakan ke seluruh umat manusia mungkin jawabannya juga berbeda dan akan saling merasa bahwa jawabannya yang paling benar, karena karakter orang berbeda dan pemahaman terhadap 'jalan hidup' akan kembali pada keimanan dan logika masing-masing. Pun saya tidak akan menjabarkan secara lugas pemikiran saya karena saya rajin menganalisa kenapa lalu bagaimana dan akan berbeda pula definisi dan pemahamannya. 

Langkah selanjutnya adalah mungkin terus saja berjalan karena tubuh belum mati dan masih ada yang dicintai. 

Saturday, February 27, 2016

A confession of a broken-hearted mind

You are the only human who thinks that everything can be measured by numbers, position and ambition. Everything should be done according to your instruction, precisely. Life, for you, is all about working harder (I dont know whether it's smarter or not even close to it) and reach the ambition , position and number by forcing people's mind and energy like crazy. I dont see any chance for me to be part of your circle. I have no ability to follow you.

It's 17.05 on Friday. We are supposed to be home and meet family instead of attending a meeting which is discussing numbers, loan and how bad we are managing ourselves and such things. Success, for some people is about money and high position but for few people, success is a happy heart. Happy heart may not take you to the first class flight or take you to VIP seat, but it will take you to what people so called -- sanity.

I can see tired and pale face. She is thinking and she is missing her daughter and her husband, but in the otherside she needs to take this way a.k.a make money to live the life. Afterall, she is the strongest woman among us although now as I see, she is holding Sangobion. We have no idea what would life bring to her. May God bless her. God bless us.

Amin.

Wednesday, April 1, 2015

ASA(M)

Manusia dilahirkan dengan rasa yang penuh asa. Semua asa dimulai dengan mencoba. Setelah itu akan segera merasakan bagaimana proses asa tersebut yang bisa jadi rasanya asa(m). dalam membentuk asa, manusia juga dibekali dengan pikiran, dimana disitu terdapat ide yang membentuk cara berpikir untuk meraih asa. Tidak lupa manusia juga diberi bekal moral. Pernah dengar pernyataan, “ sebenarnya semua manusia itu dasarnya baik.” Yang langsung muncul dibenak kita pasti, “ah masa?”. Saya pun begitu dikarenakan kita manusia sudah melihat moral-moral manusia yang tidak baik bahkan dianggap tidak bermoral, tapi saya termasuk yang percaya bahwa semua manusia dilahirkan dengan akhlak yang baik walaupun sayangnya ada beberapa manusia yang dibesarkan atau akhirnya terjerumus pada hal-hal yang tidak baik.
                Hubungan antara Moral dan Asa? Dalam menggapai asa, manusia akan bertemu dengan manusia lain atau berhubungan dengan manusia lain. Manusia lain tersebut bisa bermoral macam-macam. Katakanlah kita bertemu dengan manusia lain yang bermoral tidak baik, pilihannya : ikut atau tidak? Lanjut atau tidak?. Banyak ‘alat’ yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk menggapai asa. Lingkungan akan memberikan pengaruhnya pada kita dalam proses merengkuh asa. Ada begitu banyak pilihan, lalu akankah asa yang kita ingin capai akan tercapai?
                Tercapai atau tidaknya sebuah asa akan tergantung pada bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana sudut pandang kita terhadap hal-hal yang timbul dalam proses tersebut. Banyak cara yang bisa ditempuh. Anda tinggal memilih saja. Langkah yang diambil tentu akan menentukan hasil yang akan dicapai, namun hal yang tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan diri ketika asa tidak tercapai atau bahasa Inggrisnya tuh ‘prepare for the worst’.
                Seperti yang kamu tahu bahwa memiliki asa sama saja memiliki atau menjadi bagian dari tujuan hidup namun yang tersaji tidaklah selalu manis, ada kala rasa asa yang asa(m) pun menjadi kenyataan. Tidak menjadikan kamu apapun tapi membuat kamu tau, gak semua harus manis J


Sunday, January 11, 2015

DO WE REALLY NEED THIS?

Kebanggaan tertentu ketika memiliki identitas dengan keyakinan tertentu semakin membuat seseorang entah jumawa ataupun merasa berkuasa. aku rindu bagaimana dulu sebagai manusia yang memiliki iman tidaklah terlalu banyak dipertanyakan seperti sekarang. terlalu banyak halal-haram, entah apa yang diinginkan sebenarnya. agama atau keyakinan seperti komoditi yang dilarang ini itu dan seperti bukan hubungan sakral antara manusia dengan Tuhan. padahal yang berhak untuk menilai bagaimana hubungan itu berjalan bukanlah kamu yang banyak melarang, tapi jiwa manusia dan Tuhan. 

Aku rindu bahwa kita benar-benar sayang dengan keimanan kita. sayang dengan setulus hati sekaligus menyayangi manusia disekitar kita dengan tulus. tetapi yang aku baca adalah saking sayangnya kita terhadap keimanan kita, kita bersikap eksklusif malah cenderung fanatik. aku sudah 26 tahun meyakini sebuah keyakinan dan baru-baru ini saja menyadari bahwa semua seperti sudah berubah. arti toleransi hanya sekedar hafalan materi pelajaran kewarganegaraan. mereka tidak tahu bagaimana mengaplikasikannya. aku bukannya ingin tertawa, aku sedih bagaimana menanggapinya. aku benci dengan eksklusifitas itu. 


Tuesday, November 5, 2013

What is 'what a day' ?

Sering dengar atau sering liat kan orang-orang berucap 'what a day!' Untuk mengungkapkan betapa bahagianya mereka hari itu atau hari itu adalah hari yang sangat berkesan bagi mereka. So, what are the criterias to say that your day is 'what a day!' ? 

👉 Describe what is life for you
Setiap orang itu memiliki deskripsi sendiri mengenai arti hidup buat mereka. Ada yang menjalani hidup dengan sangat sederhana karena buat mereka, bisa bernafas itu cukup. Tapi ada beberapa manusia yang bener-bener totalitas yang pingin push their life to the limit, bahkan ada yang merasa bahwa limitation does not exist.

👉 What is a day? 
Ha? Becanda nih yang tanya. A day itu ya hari, dari Senin sampai Minggu. What else? Sebuah hari itu ada yg memaknainya sbg rutinitas. Gak sedikit pula yg memaknainya sbg kesempatan. Manusia merasa bertanggung jawab untuk mengisi hari-harinya dengan sesuatu yang berguna, entah bagi dirinya atau bagi orang lain. Buat aku? A day is a chance and doing your routine. 

👉 Count your blessing
Man, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita wajib sih sebenarnya bersyukur. Iya gak? Walaupun gak tiba-tiba jadi milyarder atau terkenal untuk harus sangat bersyukur, tapi memiliki apa yang kita punya sekarang ya gak ada salahnya bersyukur. Ya gak? 

👉 Learn how to smile and learn more how to think positively
I am not joking really. Hari gini pasti banyak orang yang susah senyum. Ada yg lagi sakit gigi dan ada yang sibuk dengan gadgetnya. Sibuk dengan diri sendiri. Berpikir positif. Gak gampang juga. Manusiawi banget kalo lebih sering mikir jelek tentang orang lain dibanding harus melihat sisi positif tentang suatu hal. That is why itu berproses banget and we need to learn more! 

Sunday, November 3, 2013

Manut apa Nunut?

Beberapa kawan merasa bahwa saya terlalu 'manut' sama bapak ibu saya. Gak berani mengambil kesempatan dan gak mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Mereka bilang, sampai kapan saya mau didikte seperti itu? 

Ini memang abad ke 21. Globalisasi. Tak tabu lagi untuk 'stating' kalo kamu gay, lesbian, hamil diluar nikah dan sebagainya yang dirasa kalo jaman dulu terlalu 'mainstream'. Kamu gak keren kalo kamu gak 'rebellious'. Break the rules itu cool. What else?

Saya dibesarkan di keluarga yang biasa saja. Kedua orang tua saya bekerja. Hubungan kami tidak terlalu dekat, tapi mereka mendidik saya untuk 'manut karo wong tuo' dan menghormati orang yg lebih tua secara usia. Tata krama deh pokoknya. Jika dirasa ada yang kurang sepaham dengan didikan mereka, pasti dilarang. Saya rasa hampir semua ortu mengajarkan hal-hal seperti itu juga ya ke anak mereka. 

Ke lingkungan pergaulan saya yuk. Pergaulan saya lebih beragam dan gak 'monotonous' seperti kehidupan keluarga saya. Lingkungan pertemanan saya beragam. Dimulai dari SMP, saya sekolah  di sekolah Katolik, kebetulan saya muslim. Mata pelajaran Agama based nya juga Katolik dan diberi alkitab seukuran saku. Setiap Jumat saya ikut ibadah Misa di gereja. Ibu saya cemas tuh saya dapat Alkitab. Kedewasaan memahami perbedaan agak terukir di benak saya. Pengetahuan baru.

Beranjak ke SMA. Saya masuk ke SMA Kristen. Bahkan sahabat pertama saya orang Kalimantan. Saya gak hanya berhadapan dengan keyakinan yang berbeda tapi juga suku / etnis yang beragam di sekolah. Lalu sahabat saya selanjutnya berasal dari Jakarta dengan 'personality' yang sangat Jakarta banget! Mengagetkan sih, tapi saya mampu bertahan 😊. Sahabat selanjutnya berasal dari kota yang sama tapi berasal dari etnis Tionghoa. Pada awalnya ada sedikit kebingungan dengan budaya Kalimantan, Jakarta & Tionghoa dan saya Jawa sekali. Lalu saya pun melewatinya dan masih berteman hingga detik ini. 

Nah, dunia perkuliahan. Hal-hal mainstream semakin banyak terjadi. What to do? Ya menjalaninya saja, fokus saya adalah kuliah saja. Menikmati hal-hal yg dianggap mainstream oleh orang tua saya sudah sehari-hari dihadapi. Just seeing sih, not doing them. Pengetahuan lagi. 

Saya itu tipikal orang yang lebih suka mengamati dan absorb inti dari semua yang saya hadapi. Jarang ada aksi yang gimana. That is why, seperti di paragraf awal tadi, temen-temen saya merasa saya itu 'lempeng' banget. Kurang rebelious. 

Ada kala dimana 'manut' itu membosankan. Sangat. Tetapi menghormati orang tua saya dengan cara 'manut' itu tadi membuat saya merasa lebih baik. Apa yang sudah mereka beri kepada saya sepertinya 'beyond everything'. 

'Manut' tapi tidak 'Nunut'. Apa maksudnya? Nunut itu ngikut (info saja). Esensi dari Manut itu gak melulu hidup saya hanya melulu dengan mereka. Saya harus mandiri, baik secara finansial maupun pendirian. Tugas mereka mengajarkan hal-hal baik sebagai 'sangu' untuk hidup saya agar gak selalu 'Nunut'.

Memanglah hidup yang sudah saya jalani seperempat abad ini belum ada apa-apanya dan gak terlalu 'mainstream' sehingga kurang keren, tapi saya percaya 'I am in a good track'. Hal-hal yang saya hadapi ataupun amati menjadi bekal saya untuk mandiri secara pemikiran hingga punya pendirian. Saya 'manut', tapi saya gak 'nunut'.